Beranda | Artikel
Tafsir Surah Al-Infitar (Bag. 2): Amalmu Tercatat dan Engkau Harus Bertanggungjawab
8 jam lalu

Sebelumnya, kita telah ber-tadabbur tentang hal-hal luar biasa yang terjadi pada hari kiamat. Setelah itu, manusia akan ingat segala amal yang telah dikerjakan di dunia, mereka ingat dan ketakutan karena harus mempertanggungjawabkan amal tersebut di akhirat. Allah juga mencela manusia-manusia yang durhaka kepada-Nya, padahal Allah telah memberikan banyak sekali kenikmatan yang tidak dapat dihitung jumlahnya oleh manusia.

Sekarang, kita memasuki tadabbur terhadap penggalan kedua dari surah ini. Allah memulai dengan menyebutkan apa alasan manusia bisa durhaka kepada-Nya. Allah jelaskan pula bahwa kedurhakaan dan ketaatan, semuanya tercatat dalam catatan malaikat, hingga semua catatan tersebut harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Serta surah ini ditutup dengan keadaan manusia yang taat dan yang durhaka. Maka, mari kita simak tadabbur kedua dari surah ini.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

كَلَّا بَلْ تُكَذِّبُوْنَ بِالدِّيْنِۙ

“Jangan sekali-kali begitu! Bahkan, kamu mendustakan hari pembalasan.” (QS. Al-Infiṭār: 9)

Pada penggalan sebelum ayat ini, Allah jelaskan bahwa manusia banyak yang durhaka kepada-Nya. Allah mencela mereka dengan kalimat tanya, “Apa yang menyebabkan engkau durhaka kepada Allah, Rabb yang Maha mulia dan Maha dermawan?” Padahal, Allah telah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya.

Maka, alasan dan sebab durhaka manusia, Allah jelaskan dalam ayat kesembilan ini, yaitu karena mereka mendustakan dan tidak percaya dengan adanya hari pembalasan, yaitu hari kiamat. Mereka tidak percaya bahwa setelah mati akan dibangkitkan. Mereka tidak percaya akan bertanggungjawab dengan amal mereka nanti.

Oleh karena itu, mereka merasa bebas melakukan kezaliman apapun di dunia; yang kuat mengalahkan dan membunuh yang lemah, yang kaya memperbudak yang miskin. Mereka merasa harus menikmati dunia sebanyak-banyaknya, dengan cara apapun, dengan menzalimi orang lain tidak apa-apa, toh setelah mati selesai, tidak ada kehidupan lagi, tidak ada pertanggungjawaban. Itu yang keluar dari mulut-mulut kotor mereka, keluar karena kebodohan mereka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَاِنَّ عَلَيْكُمْ لَحٰفِظِيْنَۙ

“Sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) pengawas.” (QS. Al-Infiṭār: 10)

Allah kemudian mempertegas bahwa manusia benar-benar akan dibangkitkan, serta tidak ada satupun dari amal mereka yang luput diawasi dan dicatat oleh malaikat. Penegasan ini untuk mengikis kesombongan dan pendustaan mereka terhadap hari kiamat, mereka dibuat semakin takut bahwa setiap gerak-gerik, bahkan ucapan hati mereka, ada malaikat pengawas yang siap mencatat dan tidak akan pernah berbohong.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

كِرَامًا كٰتِبِيْنَۙ

“Yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (amal perbuatanmu).” (QS. Al-Infiṭār: 11)

Sifat lain yang Allah sebutkan dari malaikat yang bertugas mencatat amal manusia, mereka adalah malaikat yang mulia di sisi Allah Ta’ala. Mulia karena memiliki sifat-sifat yang mulia, seperti senantiasa patuh atas perintah Allah, profesional tidak pernah luput dan salah dalam mencatat amal, tidak bisa disogok agar menjadikan catatan maksiat menjadi catatan taat, serta tidak pernah berbohong atas apa yang mereka catat. Bukan hanya mulia di sisi manusia dan makhluk lain, akan tetapi mulia di sisi Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَعْلَمُوْنَ مَا تَفْعَلُوْنَ

“Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Infiṭār: 12)

Mereka diberikan kemampuan untuk mengawasi manusia di manapun dan kapanpun, mencatat semua amal tersebut.

Berkaitan dengan malaikat pencatat amal ini, terdapat kabar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang mereka. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, dari Mujahid dengan sanad mursal, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,

أكرموا الكرام الكاتبين الذين لا يفارقونكم إلا عند إحدى حالتين: الجنابة والغائط. فإذا اغتسل أحدكم فليستتر بجرم حائط، أو ببعيره، أو ليستره أخوه

“Muliakanlah para malaikat pencatat amal yang mulia, di mana mereka tidak pernah berpisah dari kalian kecuali pada dua keadaan: ketika junub dan ketika buang hajat. Oleh karena itu, apabila salah seorang dari kalian mandi, hendaklah dia menutup diri di balik dinding, atau di balik untanya, atau ditutupi oleh saudaranya.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

اِنَّ الْاَبْرَارَ لَفِيْ نَعِيْمٍۙ

“Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam (surga yang penuh) kenikmatan.” (QS. Al-Infiṭār: 13)

Setelah Allah jelaskan bahwa catatan amal malaikat itu aman dan amanah, catatan amalan tersebut akan menjadi bukti dalam persidangan manusia kelak di hari kiamat. Dengan dilakukannya persidangan, maka manusia terbagi menjadi dua golongan besar, yaitu golongan yang selamat dan golongan yang sengsara.

Pertama, manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah ketika menjalani kehidupan dunia. Mereka berada dalam kenikmatan yang tiada batasanya di surga kelak. Bermain-main di taman-taman surga yang sangat indah; keindahan ini adalah keindahan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, bahkan tidak pernah terlewat (terbersit) di hati manusia manapun, kekal bersenang-senang di dalamnya.

Meskipun demikian, Allah tetap menyifati dan menceritakan surga dengan hal indah di dunia yang dapat dirasakan oeh panca indra dan dimengerti oleh akal manusia. Hal ini agar manusia memiliki gambaran tentang surga, meskipun dengan gambaran yang berbeda-beda antar manusia. Mereka semua sepakat pasti surga adalah tempat yang penuh keindahan, karena digambarkan dengan berbagai hal indah yang mereka saksikan di dunia. Ini adalah salah satu bentuk kemukjizatan visualisasi dari Al-Qur’an, membuat manusia bisa membayangkan, kemudian berharap, kemudian beramal untuk meraihnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَّاِنَّ الْفُجَّارَ لَفِيْ جَحِيْمٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam (neraka) Jahim.” (QS. Al-Infiṭār: 14)

Orang-orang kafir lagi durhaka, senang melakukan kezaliman, baik kezaliman pada diri sendiri, kepada makhluk lain, serta kepada Allah, maka mereka akan dibakar di neraka Jahim selama-lamanya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَا هُمْ عَنْهَا بِغَاۤىِٕبِيْنَۗ

“Mereka tidak mungkin keluar dari (neraka) itu.” (QS. Al-Infiṭār: 16)

Orang-orang kafir berada di neraka selama-lamanya, mereka tidak bisa melarikan diri dari neraka, tidak bisa mendapatkan tempat sembunyi untuk sekedar menarik nafas. Sedetik pun tidak pernah malaikat zabaniyah luput dari menyiksa mereka, membakar mereka, memukuli mereka, menyanyat-nyayat mereka. Setiap kali kulit dan daging mereka gosong karena dibakar, maka akan Allah tumbuhkan kembali, agar saraf-saraf rasa sakit mereka ada lagi, sehingga tetap merasakan sakitnya azab neraka yang mengerikan.

Suatu gambaran siksaan yang sangat mengerikan. Ketiga ayat ini seharusnya sudah sangat cukup bagi kita menjadi motivasi memperbanyak dan memperbaiki amal kita, menjadikan amal kita lebih ikhlas, serta semakin berharap agar Allah menyelamatkan kita dengan rahmat-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا يَوْمُ الدِّيْنِۙ , ثُمَّ مَآ اَدْرٰىكَ مَا يَوْمُ الدِّيْنِۗ

“Tahukah engkau apakah hari pembalasan itu? Kemudian, tahukah engkau apakah hari pembalasan itu?” (QS. Al-Infiṭār: 17-18)

Allah memberikan bentuk pertanyaan kepada manusia tentang apakah mereka mengetahui apa itu hari pembalasan. Pertanyaan ini diulang dengan maksud untuk menggetarkan jiwa bahwa hari kiamat adalah perkara yang sangat agung, agar manusia mengerti betapa mengerikannya hari itu, agar hati tersentak, kemudian berhenti, dan merenungi apa yang selama ini telah dilakukannya di dunia.

Seandainya, dan duh benar-benar seandainya manusia mengerti bagaimana kengerian hari ini sebagaimana Rasulullah mengerti, maka mereka tak akan mau lepas dari ketaatan kepada Allah meski sekejap mata, tidak akan ada hati yang berani punya niat mendekat meski sesaat saja dengan kemaksiatan. Akan tetapi realitanya, manusia penuh dengan ketidaktahuan, jadilah mereka lalai dan terperdaya dengan dunia yang fana ini dan segala isinya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِّنَفْسٍ شَيْـًٔا ۗوَالْاَمْرُ يَوْمَىِٕذٍ لِّلّٰهِ ࣖ

“(Itulah) hari (ketika) seseorang tidak berdaya (menolong) orang lain sedikit pun. Segala urusan pada hari itu adalah milik Allah.” (QS. Al-Infiṭār: 19)

Allah sendiri yang menjawab tentang hari itu, dengan jawaban yang menggetarkan hati. Hari itu adalah hari dimana tidak ada satupun jiwa yang bisa menolong jiwa yang lain, betapun tingginya kedudukan jiwa tersebut, kecuali jika Allah izinkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahkan mewanti-wanti keluarganya untuk bertakwa kepada Allah, agar mereka bisa menyelamatkan diri mereka masing-masing di hari itu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan,

يا بني هاشم، أنقذوا أنفسكم من النار، لا أملك لكم من الله شيئا

“Wahai bani Hasyim, selamatkanlah diri kalian masing-masing dari neraka. Sungguh aku tidak memiliki kuasa sedikitpun di harapan Allah (untuk menyelamatkan kalian).”

Seseorang baru bisa selamat serta menyelamatkan orang lain, jika dirinya sudah mendapatkan rahmat dan izin dari Allah Ta’ala. Semua syafaat adalah milik Allah semata, maka kita hanya memintanya dari Allah. Adapun ketika Allah memberikan izin bagi person tertentu untuk memberi syafaat, maka statusnya adalah bentuk pemuliaan bagi person tersebut, bukan karena person tersebut memiliki hak syafaat yang independen.

Akhir kata, hari itu adalah milik Allah, segala urusan kembali kepada-Nya, Allah yang akan menetapkan hukum dengan keadilan dan hikmah, tidak ada satupun makhluk yang akan dizalimi dan dikurangi haknya. Maka, mari kita banyak beramal saleh dan banyak berharap semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada kita.

[Selesai]

KEMBALI KE BAGIAN 1

***

Penulis: Dany Indra Permana

Artikel Muslim.or.id

 

Catatan kaki:

Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/


Artikel asli: https://muslim.or.id/115944-tafsir-surah-al-infitar-bag-2.html